KITAB TAFSIR SHOWI PDF

adminComment(0)

Tafsir al-Jalalayn is one of the most significant tafsirs for the study of the Qur'an. Composed by the two “Jalals” -- Jalal al-Din al-Mahalli (d. ah / ce) and . our translation of the Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm of Sahl b. ʿAbd Allāh .. Muḥammad al-Samʿānī, Kitāb al-Ansāb, facsimile edition (Leiden, ), f. b and. The following is a list of tafsir works. Tafsir is a body of commentary and explication, aimed at . Al-Muharrar al-Wajiz Fī Tafsir al-Kitab al-Aziz ('The Concise Record of the Exegesis of the .. Create a book · Download as PDF · Printable version.


Kitab Tafsir Showi Pdf

Author:MARGARITO ANNONIO
Language:English, German, Dutch
Country:Dominica
Genre:Biography
Pages:437
Published (Last):24.05.2015
ISBN:512-6-28873-342-9
ePub File Size:21.44 MB
PDF File Size:16.12 MB
Distribution:Free* [*Sign up for free]
Downloads:44375
Uploaded by: KEENA

Download as PDF, TXT or read online from Scribd kitab-amtsilati-jilidpdf . Tafsir Yasin, Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, Tafsir Showi, Tafsir Ibnu Katsir, Asbab. PDF | Shihab is an Islamic scholar who have prolifically produced a the utterance of al-Qur'an is not stated clearly on the previous verse showing the wondrous .. Ibn cAtiyyah, A. M. (). al-Muharrar al-wajiz fi tafsir al-kitab al-c aziz (Vols. TERJEMAH TAFSIR IBNU KATSIR Berdasarkan Jilid Kitab . Dalam Tafsir Ash- Shawi (Showi) 'ala Tafsir Al-Jalalain (تفسير الصاوي) karya.

Ibnu Aqil Ibnu Hamdun Ihya' Imriti Inarotud Duja Iqna' Irsyadul Ibad Is'adur-rofiq Itmamu Diroyah Ilmu tafsir 9. Jami'us-shoghir Jawahirul Bukhori Jawahirul Kalamiyah 9. Kafrowi Kailani Kasyifatus-saja Kawakibu Duriyah Kholasoh Nurul Yakin Khozinatul Asror Kifayatul Ahyar Kifayatul Ashab Kifayatul Awam Kifayatul Atqiyak Lato'iful Isyaroh Mabadi Fiqh Madarijus-su'ud Mahally Majalisus Saniyah Majmu'Ma'na Nadoman Makudi Mamba' usululul Hikmah Manaqib 9.

Maqsud Mauidhotul Mu'minin Minahus Saniyah 9. Minhajul Abidin Minhajul Qowim Minhatul Mughits Mizan Kubro Mughni Labib Muhadzab Muhtarul Ahadits Muhtasor jidan 6. Mutamimah Naso'ihul Ibad Naso'ihud-diniyah Nihayatut zain Nurud-dholam Qomi'ut thugyan 9. Qurtubi Risalatul Mu'awanah 6. Risalatul Qusairiyah Riyadul Badi'ah Riyadus-sholihin Shohih Bukhori Shohih Muslim Sirojut Tholibin Sirul Jalil Sitina Mas'alah Sulam Taufiq Sulam Munajah 5.

Sunan Abi Dawud Sunan Ibnu Majah Sunan Turmudzi Tafsir Baidhowi Tafsir Ibnu Abas Sebab sikap menekan atau mau cari untung sendiri dengan merugikan pihak lain, selain tidak disenangi Allah, juga malah 72 Seri Fiqih Kehidupan 7: Perdagangan hanya akan berakibat buruk buat masa depan perdagangannya.

Salah satu modal utama dari perdagangan adalah prospek yang ke depan yang cerah. Kuncinya justru adalah sikap yang toleran kepada sesama. Di dalam salah satu sabdanya Rasulullah SAW menekan hal itu: Bukhari Bahkan sikap memudahkan itu bukan hanya bermanfaat untuk di dunia ini, tetapi juga mendapatkan ampunan dari Allah di akhirat, sebagai sabda Rasulullah SAW berikut ini: Tirmizy 2.

Meninggalkan Syubhat Di antara adab berdagang yang utama adalah selalu berhatihati dalam masalah yang tidak jelas kehalalannya. Sikap berhatihati alias wara' ini lebih mulia dari pada sikap menggampangkan masalah yang belum jelas kehalalannya. Rasulullah SAW sendiri yang menegaskan bahwa di antara perkara yang jelas halal dan haramnya memang ada wilayah abu-abu, dimana tidak semua orang tahu hukumnya. Pada saat itu sikap yang paling baik adalah tidak mengambil resiko, berhati-hati dan menjaga, bukan karena gegabah mengharamkan, melainkan menjaga diri agar tidak terkena resiko dari sesuatu yang masih belum dimengerti halal dan haramnya.

Muamalat - 1 Rasulullah SAW bersabda: Namun di antara keduanya adalah masalah-masalah yang syubhat, dimana tidak banyak orang yang tahu hukumnya, apakah termasuk halal atau haram?. Maka orang yang meninggalkannya, dia telah terbebas dari resiko , demi agama dan kehormatannya. Bukhari dan Muslim Namun apabila sudah ada penjelasan yang rinci dari para ulama ahli di bidang ilmu fiqih muamalat, dan sudah jelas kehalalan suatu masalah, silahkan saja dilakukan tanpa harus takut resiko salah atau keliru.

Sebab hadits di atas secara tegas menyebutkan bahwa memang tidak semua orang tahu hukum yang adanya di wilayah remang-remang. Akan tetapi juga bukan berarti sama sekali tidak ada yang tahu. Mereka yang ahli di bidng ilmu syariah, yaitu para ulama tentu tahu hukumnya. Maka kepada mereka itulah seharusnya para pedagang belajar ilmu hukum halal dan haram. Amanah Adab yang juga sangat diperlukan oleh para pedagang adalah sikap yang jujur dan bisa dipercaya omongannya. Modal utama orang berdagang yang baik adalah lidahnya tidak mengecoh orang lain, biar usahanya tetap bisa berjalan terus.

Sebaliknya, pedagang yang modalnya hanya kepiawaian bersilat lidah, pandai memutar-balikkan kata, merayu-rayu dengan penuh kepalsuan, tidak akan pernah awet usahanya.

Sebab lama kelamaan orang-orang pasti akan tahu sifatnya yang tidak bisa dipercaya. Perdagangan Padahal kepercayaan orang justru menjadi pondasi utama dalam perdagangan yang awet dan besar.

Katalog Harga Kitab Makna 2014

Kunci sukses para pengusaha besar yang berhasil tidak lain adalah faktor kejujuran dan sikap amanah. Di sisi lain, pedagang yang jujur dan amanah telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW, bahwa nanti di akhirnya akan ditempatkan di posisi yang tinggi dan mulia, yaitu akan ditempat bersama-sama dengan para nabi, shiddiqin dan juga para syuhada'. Sedekah Sudah terbukti dan menjadi pengalaman banyak orang bahwa salah satu kunci sukses berdagang adalah banyak-banyak bersedekah.

Rasulullah SAW bersabda: Maka iringilah jual-beli itu dengan sedekah, karena sedekah itu memadamkan amarah Allah. Tirmizy 5. Tabkir Istilah tabkir kadang keliru dengan takbir. Makna istilah tabkir adalah berpagi-pagi mengawali usaha dagang. Istilah ini bisa dipahami secara harfiyah, yaitu memulai dagang sejak pagi hari. Semakin pagi semakin baik, karena akan semakin awal mendapatkan rejeki. At-Tirmizy Namun istilah 'berpagi-pagi' ini juga bisa dimaknai secara majazi atau kiasan, yaitu rajin memulai usaha sebelum orang lain memulainya.

Siapa yang mengawali suatu bentuk usaha, maka dia akan terus menjadi leader di bidang itu. Sementara yang lain hanya akan menjadi pengekor di belakang. Abu Daud Kalimat "alladzi nu'adu lil-bai'i" artinya adalah benda atau barang yang kami persiapkan untuk diperjual-belikan.

Jadi zakat ini memang bukan zakat jual-beli itu sendiri, melainkan zakat yang dikenakan atas barang yang dipersiapkan untuk diperjualbelikan. Perdagangan Pada unta ada kewajiban zakat, pada kambing ada kewajiban zakat dan pada barang yang diperdagangkan ada kewajiban zakat. Ad-Daruquthuny 2. Tidak Termasuk Zakat Barang Perdagangan a. Bukan Zakat Penjualan Sesungguhnya zakat ini lebih tepat disebut dengan zakat atas harta yang dimiliki seseorang dengan niat untuk diperjualbelikan, dan bukan zakat jual-beli itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa sesungguhnya transaksi jual-beli itu sendiri dalam syariat Islam tidak mewajibkan zakat. Ini derajat berbeda dengan pajak, dimana penguasa mengutip pajak dari tiap transaksi atas jual-beli yang dilakukan oleh rakyat. Sedangkan yang disyariatkan dalam zakat barang-barang perdagangan adalah zakat yang dikenakan atas barang-barang yang disimpan atau dimiliki oleh seseorang, dengan niat untuk diperjual-belikan.

Ketentuan zakatnya adalah selama barang-barang itu dimiliki, atau belum laku, maka barang-barang itu kena zakat, bila telah memenuhi syarat nishab, haul dan sebagainya.

Adapun ketika barang itu laku dijual, lalu pemiliknya mendapat uang, justru tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat atas transaksi itu. Bukan Zakat Usaha Zakat barang perdangan ini juga harus dibedakan dengan zakat usaha, bisnis, perusahaan dan lainnya.

Sebab yang namanya usaha belum tentu jual-beli. Misalnya ada seorang yang menyewakan toko buat orang lain berjualan, seperti sebagian dari bisnis waralaba. Dalam hal ini, buat orang tersebut, bisnis yang dilakukan sesungguhnya bukan jual-beli, melainkan penyewaan ruang untuk berjualan. Demikian juga dengan perusahaan, tidak setiap perusahaan mendapatkan untuk dengan cara memperjual-belikan barang, kadangkala sebuah perusahaan mendapatkan keuntungan 77 Bab 3: Muamalat - 1 hanya dengan cara menjadi perantara broker , atau menjual jasa tertentu, atau memproduksi barang tertentu.

Untuk itu ada bab khusus yang akan membahas bagaimana badan usaha harus mengeluarkan zakatnya. Dalam bab ini kita hanya akan bicara tentang zakat dari hasil proses jual-beli barang, sebagaimana kita wariskan dari khazanah kekayaan literatur fiqih Islam klasik empat mazhab.

Ketetuan Zakat Barang Perdagangan Ada beberapa ketentuan dalam masalah zakat atas barang yang diniatkan untuk dijadikan barang dagangan. Beberapa ketentuan itu antara lain adalah: Bukan Zakat Transaksi Tapi Zakat Kepemilikan Barang Zakat ini memang bukan zakat perdagangan, melainkan zakat yang dikenakan atas barang-barang yang dimiliki, entah dengan cara membelinya atau membuatnya, namun memang judulnya untuk diperdagangkan.

Dengan kata lain, zakat barang perdagangan ini dihitung bukan dari asset yang digunakan untuk perdagangan atau dari profit yang diterima, namun dari modal yang berputar untuk membeli barang yang akan diperdagangkan. Dengan demikian, kalau seseorang buka toko kelontong misalnya, maka asset seperti bangunan toko, lemari, rak, cash register, kulkas, timbangan dan semua perlengkapan yang ada di dalam toko, tidak termasuk yang harus dihitung untuk dikeluarkan zakatnya.

Yang harus dikeluarkan zakatnya adalah harta yang dikeluarkan untuk membeli stok barang di toko itu. Tidak Ada Dua Zakat Dalam kasus dimana harta yang akan diperjual-belikan adalah harta yang secara 'ain terkena zakat, seperti hewan ternak atau emas, maka yang berlaku hanya zakat ain-nya saja.

Misalnya seseorang penjual hewan memelihara lima ekor 78 Seri Fiqih Kehidupan 7: Perdagangan unta dengan niat untuk diperjual-belikan, maka sesungguhnya dia bisa terkena dua zakat sekaligus, yaitu zakat hewan ternak dan zakat memiliki barang yang niatnya untuk diperjualbelikan.

Namun dalam hal ini para ulama menegaskan bahwa yang berlaku atasnya hanya satu zakat saja, yaitu zakat atas 'ain hewan itu dan bukan zakat barang yang diperdagangkan. Misal yang lain, seseorang penjual emas punya 85 gram emas yang telah dimiliki selama satu tahun, padahal kepemilikan atas emasnya tidak lain untuk diperjual-belikan.

Saat itu memang ada dua ketentuan zakat, yaitu zakat atas kepemilikan emas itu sendiri, dan kedua zakat atas kepemilikan emas yang niatnya untuk diperjual-belikan. Tetapi yang berlaku hanya satu saja, yaitu zakat atas kepemilikan emas itu, sedang atas niat untuk memperjualbelikannya tidak diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya.

Modal Berputar itu harus sudah melewati nisab. Nisab zakat perdagangan adalah harga 85 gram emas. Bila uang yang keluar untuk membeli barang yang akan dijual lagi itu telah mencapai nilai angka seharga 85 gram emas, maka sudah cukup nishabnya. Misalnya, harga emas sekarang ini Rp.

Maka nishab zakat perdagangan adalah 85 gram x Rp. Haul Perdagangan itu telah berlangsung selama satu tahun hijriyah. Perhitungan haul dalam masalah zakat atau yang dimaksud dengan satu tahun adalah berdasarkan tahun qamariyah atau tahun hijriyah. Bukan dengan tahun syamsiyah atau yang sering dikenal dengan tahun masehi. Pembayaran Zakat a.

Waktu Pembayaran Pembayaran zakat harta perdagangan dilakukan tiap satu 79 Bab 3: Muamalat - 1 tahun sekali. Istilahnya adalah satu haul sesuai dengan hitungan tahun hijriyah. Waktunya adalah pada akhir masa setelah melewati satu haul itu, terhitung sejak memenuhi nishab dan syarat-syarat lainnya. Yang sering terjadi kesalahan di tengah masyarakat adalah bahwa semua zakat ditunaikan di bulan Ramadhan, baik zakat fithr, atau pun zakat-zakat lainnya, termasuk zakat harta perdagangan.

Yang Dibayarkan Aslinya bentuk harta yang dibayarkan sesuai dengan jenis harta yang diperjual-belikan. Misalnya, dalam jual-beli pasir, maka yang bila telah memenuhi syarat, yang disetorkan kepada baitulmal adalah pasir juga. Dalam jual-beli minyak maka yang dibayarkan juga berbentuk minyak juga. Namun para ulama membolehkan bila harta yang wajib dikeluarkan zakatnya diserahkan dalam bentuk uang yang nilainya setara.

Hal itu sesuai dengan ketentuan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu: Nilai itu dihitung dari besarnya barang yang diperjualbelikan atau distok oleh pedagang. Misalnya nilai barang-barang itu totalnya menjadi juta rupiah, maka yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5 juta rupiah.

Perdagangan perdagangan ini, Penulis uraikan contoh nyata dari praktek zakat harta perdagangan ini dengan menggunakan realitas keseharian. Bapak Halim punya usaha toko bahan bangunan, atau material. Untuk itu beliau membeli lahan seluas meter persegi sebagai tempat usaha, seharga 1 juta rupiah per meter.

Di awal pak Halim merogoh kocek cukup besar untuk menyiapkan lahan, setidaknya 1 milyar. Kemudian sebagai tempat usaha, pak Halim merogoh kosek lagi sebesar juta, untuk membangun toko dan gudang serta peralatan dan rak-rak penyimpanan.

Dan sebagai sarana pengangkutan bahan-bahan material bangunan, pak Halim membeli sebuah mobil bak terbuka seharga juta. Sehingga total modal yang dikeluarkan pak Halim di awal usahanya tidak kurang dari 1,65 milyar. Kemudian pak Halim mulai membeli material untuk distok dan dijual kepada konsumen, berupa pasir, semen, kayu, besi, dan juga berbagai perlengakapan untuk membangun rumah lainnya. Total pak Halim menghabiskan modal juta untuk semua barang yang akan diperjual-belikan.

Dari sini sudah langsung bisa ditetapkan bahwa yang terkena kewajiban zakat hanya modal yang juta itu saja, sedangkan modalnya yang 1,65 milyar tidak perlu diikutkan dalam penghitungan zakat. Angka juta tentu sudah jauh melebihi batas minimal kewajiban zakat perdagangan nisab , yang senilai dengan 85 gram emas. Setahun setelah usahanya berjalan, semua material yang ada di toko bangunan pak Halim kemudian harus dihitung nilainya.

Katakanlah nilainya semakin besar, menjadi seharga juta. Catatan penting, zakat barang perniagaan ini hanya dihitung berdasarkan barang-barang yang distok dan menjadi milik sepenuhnya.

Sedangkan barang titipan yang dipajak dan 81 Bab 3: Muamalat - 1 ikut dijual, tentu tidak terkena kewajiban zakat ini.

Muamalat - 1 Bab 4: Akad Kredit Bab 4: Akad Kredit Ikhtishar A. Masyru'iyah 1. As-Sunnah C. Hukum 1.

List of tafsir works

Halal 2. Haram D. Titik Keharaman 1. Menangguhkan Pembayaran Dengan Fee 2. Pemaksaan 3. Menjual Lagi Kepada Penjual E.

Perbedaan Harga 1. Harga Boleh Berbeda 2. Harga Tidak Boleh Berbeda F. Kartu Kredit 1. Kelebihan 2. Keharaman A. Akad Kredit Seri Fiqih Kehidupan 7: Muamalat makna dari kata "kredit", antara lain: Cara menjual barang dengan pembayaran secara tidak tunai pembayaran ditangguhkan atau diangsur.

Pinjaman uang dengan pembayaran pengembalian secara mengangsur. Penambahan saldo rekening, sisa utang, modal, dan pendataan bagi penabung. Pinjaman sampai batas jumlah tertentu yang diizinkan oleh bank atau badan lain. Sisi kanan neraca di Indonesia. Dalam kajian ini, yang akan kita bahas adalah kredit dalam pengertian yang pertama, yaitu jual-beli barang dengan pembayaran yang ditangguhkan atau diangsur. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang dengan harga yang sudah dipastikan nilainya, dimana barang itu diserahkan kepada pembeli, namun uang pembayarannya dibayarkan dengan cara cicilan sampai masa waktu yang telah ditetapkan.

Akad Kredit Ayat ini terbilang ayat yang paling panjang di dalam AlQuran. Isinya menceritakan tentang jual-beli yang pembayarannya dilakukan dengan cara ditangguhkan atau tidak secara tunai, dimana ada keharusan agar semua kesepakatan jual-beli yang tidak tunai itu harus dicatat atau ditulis. Bukhari dan Muslim C. Hukum Jual-beli secara kredit ada yang halal dan ada yang haram, tergantung sejauh mana segala ketentuan dan persyaratan yang dijalankan.

Al-Qaradawi dalam buku Al-Halalu wa Al-Haram fil Islam mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan. Rasulullah SAW sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya. Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa bila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka haram hukumnya dengan dasar bahwa tambahan harga itu berhubung masalah waktu dan itu sama dengan riba.

Tetapi jumhur mayoritas ulama membolehkan jual-beli kretdit ini, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Jual-beli kredit tidak bisa 85 Bab 4: Muamalat dipersamakan dengan riba dari segi manapun.

Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

You might also like: KITAB SYAMAIL MUHAMMADIYAH PDF

Imam Syaukani berkata: Dan inilah yang kiranya lebih tepat. Halal Jual-beli secara kredit yang memenuhi segala ketentuan yang disyaratkan, hukumnya dibolehkan dalam syariat Islam. Contoh kredit yang halal misalnya dalam pembelian sepeda motor. Budi membutuhkan sepeda motor. Di showroom harganya dibanderol 12 juta rupiah.

Karena Budi tidak punya uang tunai 12 juta rupiah, maka Budi meminta kepada pihak Bank untuk membelikan untuknya sepeda motor itu. Sepeda motor itu dibeli oleh Bank dengan harga 12 juta rupiah tunai dari showroom, kemudian Bank menjualnya kepada Budi dengan harga lebih tinggi, yaitu 18 juta rupiah. Kesepakatannya adalah bahwa Budi harus membayar uang muka sebesar 3 juta rupiah, dan sisanya yang 15 juta dibayar selama 15 kali tiap bulan sebesar 1 juta rupiah.

Más de Jawie Abina Sahla

Transaksi seperti ini dibolehkan dalam Islam, karena harganya tetap fix , tidak ada bunga atas hutang. Haram Dan jual-beli secara kredit hukumnya menjadi haram dan terlarang apabila ada ketentuan atau persyaratan yang dilanggar. Dalam contoh di atas, kesepakatan yang haram misalnya Budi tidak membeli motor dari pihak Bank, tetapi pinjam uang sebesar 12 juta rupiah.

Kewajiban Budi adalah membayar cicilan sebesar 1 juta tiap bulan sebanyak 12 kali, tapi masih dikenakan lagi bunga atas sisa hutangnya. Akad Kredit Misalnya pada cicilan bulan pertama, Budi membayar 1 juta rupiah.

Maka sisa hutang Budi kepada Bank tinggal 11 juta. Pada cicilan bulan kedua, Budi membayar lagi 1 juta rupiah. Maka sisa hutang Budi tinggal 10 juta. Dan begitulah seterusnya sampai 15 bulan. Kalau kita buat tabelnya, kurang lebih seperti berikut ini: Yang seperti ini jelas haram.

Muamalat D. Menangguhkan Pembayaran Dengan Fee Dalam kasus dimana pembeli tidak mampu untuk melunasi hutangnya, sering terjadi penangguhan pelunasan dengan konsekuensi denda berupa fee. Praktek ini tidak dibenarkan dalam syariat Islam, karena sesungguhnya itulah wujud asli dari praktek riba yang diharamkan, yaitu menambahan harga atas penundaan pembayaran.

Pemaksaan Di antara bentuk-bentuk jual-beli kredit yang diharamkan adalah pemaksaan, dimana salah satu pihak memaksakan suatu harga tanpa bisa ditolak oleh pihak lainnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: Menjual Lagi Kepada Penjual Dalam kasus tertentu terkadang jual-beli secara kredit ini seringkali dijadikan sebuah alibi untuk melakukan transaksi lain yang sesungguhnya diharamkan. Misalnya A menjual sepeda motor dengan harga 22 juta kepada B secara kredit.

Sehinggat tercata bahwa B punya hutang kepada A senilai 22 juta. Lalu B menjual kembali sepeda motor itu kepada A dengan tunai seharga 15 juta. Maka A menyerahkan uang tunai kepada B uang tunai sebesar 15 juta. Padahal yang sebenarnya terjadi, B pinjam uang 15 juta kepada B dan B harus membayar pokok hutang 15 juta itu plus bunganya sebesar 7 juta, sehingga nilai totalnya menjadi 22 juta.

Akad ini adalah akad akal-akalan memanfaatkan jual-beli secara kredit. Akad Kredit Bukti bahwa cara jual-beli akal-akalan adalah bahwa sepeda motor yang katanya diperjual-belikan itu ternyata hanya fiktif saja, tidak pernah diperjual-belikan secara sesungguhnya. Perbedaan Harga Khusus tentang adanya sebagain pendapat yang mengharamkan jual-beli kredit karena dianggap riba lantaran ada dua harga yang berbeda, maka Penulis akan jelaskan lebih dalam tentang hal itu.

Harga Boleh Berbeda Sering muncul pertanyaan, apakah boleh membedakan harga jual karena adanya penangguhan pembayaran? Bukankah hal itu sama dengan riba? Sebab pembungaan hutang itu terjadi karena penangguhan pembayaran, sehingga bunganya menjadi berlipat-lipat.

Jual-beli secara kredit ini memungkinkan pembeli untuk menangguhkan pembayaran. Dan untuk penangguhan itu dibenarkan bagi penjual untuk menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang dibayar tunai. Sebenarnya, pada prinsipnya seorang penjual berhak menetapkan harga jual dari barangnya berapa pun nilainya, asalkan bukan merupakan bentuk monopoli dan juga disetujui oleh pembeli.

Dan penjual juga berhak untuk menjual sebuah produk yang sama dengan harga berbeda dengan berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain: Misalnya, sebungkus nasi rames pakai lauk tempe dan krupuk dijual kepada mahasiswa dengan harga lima ribu rupiah. Tetapi kepada pegawai kantoran dijual dengan harga enam ribu rupiah.

Muamalat Begitu juga harga tiket bus kota, biasanya berbeda antara harga pelajar dengan harga untuk umum. Harga pendaftaran seminar untuk mahasiswa juga berbeda untuk umum. Harga tiket pesawat untuk anak-anak lebih murah dari pada harga untuk orang dewasa, padahal anak-anak itu tetap mendapat satu kursi seperti layaknya orang dewasa.

Dan semua itu sah-sah saja hukumnya, asalkan harga itu disepakati oleh pembeli, maka jual beli itu halal. Misalnya, nasi rames tadi dijual lima ribu rupiah, karena tempatnya di warung tenda. Tetapi begitu masuk ke Mal, harganya jadi sepuluh ribu rupiah. Harga semangkuk bakso di warung pojok hanya 8 ribu perak dengan rasa yang enak.

Sementara harga semangkuk bakso di dalam tempat wisata elite bisa naik jadi 20 ribu dengan rasa yang biasa-biasa saja. Kalau kita beli ikan di desa nelayan, pasti kita akan mendapat harga yang sangat miring dan jauh lebih murah, dari pada kita beli ikan itu di restoran bintang lima. Tetapi prinsipnya, asalkan jual-beli itu disepakati dengan rela dan ikhlas, maka jual-beli itu sah. Harga tiket pesawat ke luar negeri untuk sekali jalan one way biasanya akan jatuh lebih mahal dari pada kita beli untuk pulang pergi return.

Dalam hal ini perbedaan harga dibenarkan kalau benda yang diperjual-belikan itu berbeda jumlahnya. Akad Kredit Waktu Pembayarannya Berbeda Maka tidak salah juga bila harganya berubah lebih mahal bila pembayarannya ditangguhkan. Misalnya nasi rames itu dijual seharga lima ribu rupiah kalau dibayar secara tunai. Tetapi kalau membayarnya akhir bulan, maka harganya ditetapkan menjadi enam ribu rupiah. Maka yang menjadi prinsip adalah harga harus disepakati di awal, meski pun boleh jadi tidak seragam.

Harga Tidak Boleh Berubah Apabila kedua belah pihak telah menyepakati harga atas suatu barang atau jasa, namun disepakati pembayarannya ditangguhkan, maka yang tidak boleh dilanggar adalah perubahan harga karena maju mundurnya pembayaran.

Sebagai contoh sederhana, katakanlah dalam jual-beli rumah, telah ditetapkan bahwa harga rumah juta bila dibayar tunai dan juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun. Maka tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku. Kartu Kredit Di zaman ini berbelanja dengan menggunakan kartu kredit memberikan banyak kelebihan, selain urusan gengsi.

Kelebihan a. Aman Seseorang tidak perlu membaya uang tunai kemana-mana. Cukup membawa sebuah kartu kredit dan biasanya kartu itu bisa diterima dimanapun di belahan dunia ini. Seseorang tidak perlu merasa khawatir untuk kecopetan, kecurian atau kehilangan uang tunainya.

Bahkan bila kartu kredit ini hilang, seseorang cukup menghubungi penerbit kartu itu dan dalam hitungan detik kartu tersebut akan diblokir. Muamalat b. Praktis Membawa uang tunai apalagi dalam jumlah yang besar tentu sangat tidak praktis. Dengan kartu kredit seseorang bisa membawa uang dalam jumlah besar hanya dalam sebuah kartu. Akses Beberapa toko dan perusahaan tertentu hanya menerima pembayaran melalui kartu kredit.

Misalnya toko online di internet yang sangat mengandalkan pembayaran dengan kartu kredit. Kita tidak bisa membeli sebuah produk di site. Keharaman Namun tidak berarti kartu kredit itu bisa sukses di setiap tempat. Untuk keperluan belanja kecil dan harian, penggunaan kartu kredit tidak banyak berguna. Untuk jajan bakso di ujung gang, masih sangat dibutuhkan uang tunai.

Tukang bakso tidak menerima American Visa dan sejenisnya. Selain itu dengan maraknya kasus carding atau pemalsuan kartu kredit di internet terutama dari Indonesia, sampai-sampai transaksi online bila pemesannya dari Indonesia tidak akan dilayani. Pada dasarnya, prinsip kartu kredit ini memberikan uang pinjaman kepada pemegang kartu untuk berbelanja di tempattempat yang menerima kartu tersebut.

Setiap kali seseorang berbelanja, maka pihak penerbit kartu memberi pinjaman uang untuk membayar harga belanjaan. Untuk itu seseorang akan dikenakan biaya beberapa persen dari uang yang dipinjamnya yang menjadi keuntungan pihak penerbit kartu kredit. Biasanya uang pinjaman itu bila segera dilunasi dan belum jatuh tempo tidak atau belum lagi dikenakan bunga, yaitu selama masa waktu tertentu misalnya satu bulan dari tanggal pembelian. Tapi bila telah lewat satu bulan itu dan tidak dilunasi, maka akan dikenakan bunga atas pinjaman tersebut yang besarnya 92 Seri Fiqih Kehidupan 7: Akad Kredit bervariasi antara masing-masing perusahaan.

Jadi bila dilihat secara syariah, kartu kredit itu mengandung dua hal. Pertama, pinjaman tanpa bunga yaitu bila dilunasi sebelum jatuh tempo. Kedua, pinjaman dengan bunga yaitu bila dilunasi setelah jatuh tempo. Bila seseorang bisa menjamin bahwa tidak akan jatuh pada opsi kedua, maka menggunakan kartu kredit untuk berbelanja adalah halal hukumnya. Tapi bila sampai jatuh pada opsi kedua, maka menjadi haram hukumnya karena menggunakan praktek riba yang diharamkan oleh Allah SWT.

Muamalat - 1 Bab 5: Akad Salam Bab 5: Akad Salam Ikhtishar A. Definisi 1. Istilah 3. Fuqaha B. Pembeli 2. Penjual D. Contoh E. Rukun 1. Shighat 2. Kedua-belah Pihak 3. Uang dan Barang F. Syarat 1. Syarat Pada Uang 2. Syarat Pada Barang A. Definisi Akad salam adalah salah satu bentuk akad dalam fiqih muamalah. Salam yang dimaksud disini bukan salam yang 87 Bab 5: Akad Salam Seri Fiqih Kehidupan 7: Muamalat - 1 artinya perdamaian atau memberi salam.

Salam yang dimaksud dalam pembahasan ini terdiri dari tiga huruf: Dari kata salam inilah istilah Islam punya akar yang salah satu maknanya adalah berserah-diri.

Di kebanyakan hadits nabawi, istilah yang nampaknya lebih banyak digunakan adalah salaf. Namun dalam kitab fiqih, lebih sering digunakan salam. Keduanya bermakna pemberian. Ungkapan aslama ats-tsauba lil al-khayyath bermakna: Dengan bahasa yang mudah, akad salam itu pada hakikatnya adalah jual-beli dengan hutang.

Tapi bedanya, yang dihutang bukan uang pembayarannya, melainkan barangnya. Sedangkan uang pembayarannya justru diserahkan tunai. Jadi akad salam ini kebalikan dari kredit. Kalau jual-beli kredit, barangnya diserahkan terlebih dahulu dan uang pembayarannya jadi hutang. Sedangkan akad salaf, uangnya diserahkan terlebih dahulu sedangkan barangnya belum 9 Lisanul Arab, madah 'Gharar' hal. Akad Salam diserahkan dan menjadi hutang.

Akad Salam Bukan Uang Muka atau Uang Jaminan Biasanya sebelum sebuah transaksi jual-beli terjadi, ada semacam kesepakatan awal antara penjual dan pembeli, dengan ditandai dengan semacam uang muka sebagai jaminan.

Dibandingkan dengan uang muka atau uang jaminan, akad salam berbeda kedudukannya dalam beberapa hal. Di dalam akad salam, jual-beli sudah resmi terjadi dan sudah sah. Yang belum dilakukan hanya tinggal serah terima barang yang diperjual-belikan.

Sedangkan dalam masalah uang jaminan, jual-beli belum selesai dan masih dalam proses. Maka akad salam ini berbeda dengan uang muka atau uang jaminan. Akad Salam Bukan Sistem Ijon Yang Haram Akad salam juga tidak sama dengan jual-beli siste ijon yang sering terjadi antara petani dan tengkulak. Tanamannya itu belum berbuah, kalau pun ada, masih berupa pentil buah. Bahkan kadang jual-beli ijon sudah dilakukan sejak sebelum dia menanam. Sistem ijon yang mereka lakukan itu adalah jual-beli haram, karena termasuk jual-beli yang mengandung unsur jahalah atau ketidak-jelasan barang yang diperjual-belikan.

Tentu saja barang yang dijual tidak jelas, sebab masih mentah di pohon, bahkan belum lagi ditanam.

(1) Pengajian Pasaran (Kilatan) Bulan Ramadhan Kitab Fathul Wahhab (Fiqh).pdf

Sedangkan akad jual-beli salam berbeda dengan sistem ijon yang haram itu. Yang membedakannya bahwa dalam akad 89 Bab 5: Muamalat - 1 salam ini, hasil panen yang dijual harus ditetapkan spesifikasinya sejak akad disepakati secara tepat, baik jenisnya kualitas, kuantitas dan lainnya dan tidak boleh digantungkan pada semata-mata hasil panen.

Sehingga apabila hasil panennya tidak sesuai dengan spesifikasi yang sudah disepakati, hutangnya dianggap tetap belum terbayar. Petani itu wajib membayar dengan hasil panen yang sesuai dengan spesifikasi yang sudah disepakati, bagaimana pun caranya termasuk dengan membeli dari petani lain.

Sedangkan sistem ijon itu haram, karena barang yang dijual semata-mata apa adanya dari hasil panen. Bila hasil panennya jelek atau tidak sesuai harapan, maka yang membeli hasil panen itu rugi. Sebaliknya, bila hasilnya bagus, maka boleh jadi petaninya yang rugi, karena harga jualnya jauh lebih rendah dari harga pasar yang berlaku saat itu. Alasannya lantaran tidak ada jaminan bagi si penjual untuk bisa mendapatkan barang itu untuk diserahkan kepada pembelinya.

Misalnya, Ahmad menjual mobil milik Budi kepada Eko. Padahal Ahmad dan Budi tidak punya kesepakatan apa-apa tentang jual-beli mobil. Maka Ahmad tidak bisa main jual barang milik Budi begitu saja kepada Eko. Hal itu karena sama sekali tidak bisa memastikan apakah Budi mau menjual mobilnya ke Ahmad untuk dijual lagi ke Eko. Maka akad ini adalah akad haram. Dalam akad salam, barang yang diperjual-belikan bukan barang yang spesifik dimiliki oleh seseorang, melainkan barang yang bisa dibeli dari siapa saja yang memilikinya dan memang tersedia dalam jumlah yang banyak.

Dalm hal ini Ahmad bukan menjual mobil milik Budi, melainkan menjual mobil dengan spesifikasi tertentu, dimana 90 Seri Fiqih Kehidupan 7: Akad Salam Ahmad bisa dengan mudah mendapatkannya dari banyak sumber, tidak harus milik Budi. Contoh lain A menjual secara salam berupa seekor sapi kepada B. A dan B sepakat bahwa spesifikasi sapi itu misalnya sapi jenis tertentu, betina, usia 3 tahun, berat badan sekian dan seterusnya. Akad itu menjadi haram kalau sapi yang dimaksud adalah harus sapi milik C yang tertentu yaitu yang bernama Paijo, padahal C belum tentu menjualnya kepada A.

Tapi akad itu menjadi halal dalam salam, karena sapinya tidak harus si Paijo milik C, bisa sapi yang bernama siapa saja asalkan kriterianya tepat sesuai dengan yang disepakati. Dan tentunya sapi seperti itu tersedia dimana-mana asalkan ada uangnya.

Datang orang-orang dari negeri syam. Ketika ditanyakan kepada kami,"Apakah mereka itu mempunyai tanaman? Kemudian beliau membaca ayat ini. HR Asy-Syafi'i dalam musnadnya Secara umum memang ada larangan jual-beli ketika barangnya belum ada, seperti yang disebutkan dalam hadits 92 Seri Fiqih Kehidupan 7: Akad Salam berikut: Ijma' Ibnu Al-Munzir menyebutkan bahwa semua orang yang kami kenal sebagai ahli ilmu telah bersepakat bahwa akad salam itu merupakan akad yang dibolehkan.

Manfaat Akad Salam Akad salam ini dibolehkan dalam syariah Islam karena punya hikmah dan manfaat yang besar, dimana kebutuhan manusia dalam bermuamalat seringkali tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan atas akad ini.

Kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli bisa sama-sama mendapatkan keuntungan dan manfaat dengan menggunakan akad salam. Pembeli Dengan menggunakan akad salam yang memang hukumnya halal, ada keuntungan yang bisa diraih oleh pihak pembeli. Beberapa di antara keuntungan itu misalnya: Jaminan Mendapatkan Barang Jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan dan pada waktu yang ia inginkan.

Keuntungan seperti ini bisa terjadi dalam kasus tertentu, seperti pada saat barang akan menjadi langka dan sulit didapat, tetapi saat itu justru dibutuhkan orang. Maka pembeli yang sudah melakukan akad jual-beli secara salam tentu tidak perlu 10 Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah jilid 4 hal. Muamalat - 1 repot mencari barang yang langka itu. Sebab dia pada dasarnya sudah membeli dan sudah memiliki barang itu, karena transaksi sudah selesai.

Tinggal menunggu pengiriman saja. Contoh yang paling sederhana adalah membeli tiket kereta api atau pesawat beberapa bulan sebelum musim mudik. Tiket sudah dibayar penuh dan uangnya sudah lunas. Sedangkan barang atau jasanya belum kita nikmati. Maka pada saat musim mudik tiba, ketika orang kelimpungan mencari tiket, kita tinggal santai saja.

Harga Cenderung Lebih Baik Keuntungan kedua dengan menggunakan akad salam ini adalah kita tidak akan jadi korban permainan harga. Biasanya hukum pasar yang berlaku adalah ketika barang langka, maka harga cenderung akan naik.

Ketika demand tinggi sementara suplay tidak bisa memenuhi, harga akan melambung. Harga tiket akan naik beberapa kali lipat, baik resmi atau tidak resmi, di musim liburan high season. Tetapi mereka yang sudah beli tiket jauh-jauh hari, tentu tidak perlu membayar lebih.

Tiket yang mereka punya harganya pasti jauh lebih murah. Penjual Sedangkan di pihak penjual, akad salam ini pada momen tertentu juga bisa menjadi pilihan yang menguntungkan. Dapat Modal Dengan sistem akad salam, pihak penjual bisa dapat uang segar tanpa harus segera menyerahkan barang. Seolah-olah penjual mendapatkan modal gratisan untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga.

Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat 94 Seri Fiqih Kehidupan 7: Akad Salam menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kewajiban apapun.

Cerita menarik dari para pengusaha bisnis haji dan umrah barangkali bisa kita jadikan salah satu contoh. Sebagaimana kita tahu bahwa tiket perjalanan haji itu menjadi rebutan ribuan calon jamaah.

Biasanya, meski perjalanan haji baru dilaksanakan di bulan Dzulqa'dah, namun biaya harus sudah disetorkan jauhjauh hari sebelumnya, bahkan sampai bertahun-tahun sebelumnya.

Maka pihak penyelenggara haji dan umrah, baik pemerintah atau swasta, akan kebanjiran uang tunai. Uang itu bisa dipakai untuk menjadi modal usaha. Bahkan mereka yang terlalu berani menanggung resiko, uang itu malah diputar-putar dulu untuk memodali usaha yang lain. Setidaknya uang itu bisa didepositokan, sehingga akan ada hasil tambahan.

Tentu deposito yang digunakan harus syariah, biar tidak menjadi haram karena memakan bunga ribawi. Punya Tempo Selain mendapat modal, pihak penjual juga memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama. Rukun Rukun jual-beli secara salam ada tiga, yaitu: Shighat Shighat itu adalah ijab dan qabul, dimana penjual mengicpakan lafadz ijab kepada pembeli, seperti aslamtuka aku jual secara salam atau aslaftuka aku jual secara salaf , atau dengan kata-kata lain yang menjadi musytaq dari keduanya.

A'thaituka salaman aku serahkan kepadamu secara salam 95 Bab 5: Muamalat - 1 Sedangkan qabul adalah jawaban dari pihak yang membeli secara salam, seperti ucapan: Kedua-belah Pihak Yang dimaksud dengan kedua-belah pihak adalah keberadan penjual dan pembeli yang melakukan akad salam. Tanpa keberadaan keduanya, maka salah satu rukun salam tidak terpenuhi, sehingga akad itu menjadi tidak sah. Pada masing-masing harus terdapat syarat, yaitu syarat ahliyah atau syarat wilayah.

Syarat ahliyah maksudnya mereka masing-masing itu adalah pemilik orang yang beragama Islam, aqil, baligh, rasyid Sedangkan syarat wilayah, maksudnya masing-masing menjadi wali yang mewakili pemilik aslinya dari uang atau barang, dengan penujukan yang sah dan berkekuatan hukum sama.

Akad salam memastikan adanya harta yang dipertukarkan, yaitu uang sebagai alat pembayaran dan barang sebagai benda yang diperjual-belikan.

Syarat Akad Salam Sebuah akad salam membutuhkan terpenuhinya syarat padatiap rukunnya, baik yang terdapat pada uangnya atau pun pada barangnya. Lihat kitab Al-Badai' jilid 5 hal. Lihat Dr. Akad Salam 1. Syarat Pada Uang Uang yang dijadikan alat pembayaran dalam akad salam diharuskan memenuhi kriteria sebagai berikut: Jelas Nilainya Uangnya harus disebutkan dengan jelas nilainya atau kursnya.

Kalau di zaman dahulu, harus dijelaskan apakah berbentuk coin emas atau perak. Diserahkan Tunai Pembayaran uang pada akad salam harus dilakukan secara tunai atau kontan pada majelis akad salam itu juga, tanpa ada sedikitpun yang terhutang atau ditunda.

Bila pembayarannya ditunda dihutang misalnya setahun, kemudian ketika pembayaran, pemesan membayar dengan menggunakan cek atau bank garansi yang hanya dapat dicairkan setelah beberapa bulan yang akan datang, maka akad seperti ini terlarang dan haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut: Oleh karena itu, akad ini dinamakan dengan salam, karena adanya pembayaran di muka. Sehingga bila pembayaran ditunda, maka termasuk ke dalam penjualan piutang dengan piutang yang haram hukumnya.

Muamalat - 1 2. Syarat Pada Barang a. Bukan Ain-nya Tapi Spesifikasinya Dalam akad salam, penjual tidak menjual ain suatu barang tertentu yang sudah ditetapkan, melainkan yang dijual adalah barang dengan spesifikasi tertentu. Sebagai contoh, seorang pedagang material bangunan menjual secara salam 10 kantung semen dengan merek tertentu dan berat tertentu kepada seorang pelanggan. Kesepakatannya pembayaran dilakukuan saat ini juga, namun penyerahan semennya baru 2 bulan kemudian, terhitung sejak akad itu disepakati.

Walaupun saat itu mungkin saja si pedagang punya 10 kantung semen yang dimaksud di gudangnya, namun dalam akad salam, bukan berarti yang harus diserahkan adalah 10 kantung itu. Pedagang itu boleh saja dia menjual ke kantung itu saat ini ke pembeli lain, asalkan nanti pada saat jatuh tempo 2 bulan kemudian, dia sanggup menyerahkan 10 kantung semen sesuai kesepakatan.

Sebab yang dijual bukan ke kantung yang tersedia di gudang, tapi yang dijual adalah 10 kantung yang lain, yang mana saja, asalkan sesuai spesifikasi. Barang Jelas Spesifikasinya Barang yang dipesan harus dijelaskan spesifikasinya, baik kualitas mau pun juga kuantitas.

Termasuk misalnya jenis, macam, warna, ukuran, dan spesifikasi lain. Pendeknya, setiap kriteria yang diinginkan harus ditetapkan dan dipahami oleh kedua-belah pihak, seakan-akan barang yang dimaksud ada di hadapan mereka berdua.

Sedangkan barang yang tidak ditentukan kriterianya, tidak boleh diperjual-belikan dengan cara salam, karena akad itu termasuk akad gharar untung-untungan yang nyata-nyata 98 Seri Fiqih Kehidupan 7: Akad Salam dilarang dalam hadits berikut: Barang Tidak Diserahkan Saat Akad Apabila barang itu diserahkan tunai, maka tujuan utama dari salam malah tidak tercapai, yaitu untuk memberikan keleluasan kepada penjual untuk bekerja mendapatkan barang itu dalam tempo waktu tertentu.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW: Bukhari dan Muslim Al-Qadhi Ibnu Abdil Wahhab mengatakan bahwa salam itu adalah salaf, dimana akad itu memang sejak awal ditetapkan untuk pembayaran di awal dengan penyerahan barang belakangan. Batas Minimal Penyerahan Barang Al-Karkhi dari Al-Hanafiyah menyebutkan minimal jatuh tempo yang disepakati adalah setengah hari dan tidak boleh kurang dari itu.

Ibnu Wahab meriwayatkan dari Malik bahwa minimal jarak penyerahan barang adalah 2 atau 3 hari sejak akad dilakukan. Muamalat - 1 Ulama lain menyebutkan minimal batasnya adalah 3 hari, sebagai qiyas dari hukum khiyar syarat. Jelas Waktu Penyerahannya Harus ditetapkan di saat akad dilakukan tentang waktu jatuh tempo penyerahan barang.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: Dan ketidak-jelasan kapan jatuh tempo penyerahan barang itu akan membawa kedua-belah pihak ke dalam pertengkaran dan penzaliman atas sesama. Jatuh tempo bisa ditetapkan dengan tanggal, bulan, atau tahun tertentu, atau dengan jumlah hari atau minggu atau bulan terhitung sejak disepakatinya akad salam itu. Dimungkinkan Untuk Diserahkan Pada Saatnya Pada saat menjalankan akad salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk memperhitungkan ketersedian barang pada saat jatuh tempo.

Persyaratan ini demi menghindarkan akad salam dari praktek tipu-menipu dan untung-untungan, yang keduanya nyata-nayata diharamkan dalam syari'at Islam. Misalnya seseorang memesan buah musiman seperti durian atau mangga dengan perjanjian: Selain mengandung unsur gharar untung-untungan , akad semacam ini juga akan menyusahkan salah satu pihak.

Padahal diantara prinsip dasar perniagaan dalam islam ialah "memudahkan", sebagaimana disebutkan pada hadits berikut: Ahmad Ditambah lagi pengabaian syarat tersedianya barang di pasaran pada saat jatuh tempo akan memancing terjadinya percekcokan dan perselisihan yang tercela.

Padahal setiap perniagaan yang rentan menimbulkan percekcokan antara penjual dan pembeli pasti dilarang. Jelas Tempat Penyerahannya Yang dimaksud dengan barang yang terjamin adalah barang yang dipesan tidak ditentukan selain kriterianya. Adapun pengadaannya, maka diserahkan sepenuhnya kepada pengusaha, sehingga ia memiliki kebebasan dalam hal tersebut.

Pengusaha berhak untuk mendatangkan barang dari ladang atau persedian yang telah ada, atau dengan membelinya dari orang lain. Persyaratan ini bertujuan untuk menghindarkan akad salam dari unsur gharar untung-untungan , sebab bisa saja kelak ketika jatuh tempo, pengusaha —dikarenakan suatu hal- tidak bisa mendatangkan barang dari ladangnya, atau dari perusahaannya.

Perbedaan Pendapat Tentang Definsi Salam Ada beberapa definisi salam menurut para ulama mazhab sesuai dengan syarat yang mereka ajukan.

Setidaknya ada tiga pendapat dalam hal ini. Pendapat Pertama Sudah disebutkan bahwa menurut pendapat pertama, akad salam merupakan jual beli yang uangnya dibayarkan sekarang sedangkan barangnya diserahkan kemudian.

Muamalat - 1 membeli sesuatu yang diberikan kemudian dengan pembayaran sekarang. Maksudnya, salaf adalah membeli sesuatu yang diserahkannya bukan saat akad dilangsungkan tetapi diserahkan kemudian. Ini menjadi syarat dari akad salam. Namun mereka menetapkan bahwa pembayarannya harus dilakukan saat itu juga, yakni saat akad dilangsungkan. Pendapat Kedua Adapun mazhab Asy-Syafi'i, tidak mensyaratkan penyerahan sesuatu yang diperjual-belikan itu di kemudian hari atau saat itu juga.

Yang lebih penting adalah -menurut mereka, penyerahan uang pembayarannya dilakukan saat akad. Pendapat kedua ini hanya mensyaratkan penyerahan uangnya yang harus saat akad, adapun barangnya boleh langsung diserahkan ataupun bisa juga diserahkan kemudian.

Maksudnya, salam adalah sebuah akad atas suatu benda yang disebutkan sifatnya dalam tanggungan dengan imbalan yang dilakukan saat itu juga. Hal inilah yang membedakan definisi mazhab Asy-Syafi'i ini dengan kedua mazhab sebelumnya.

Lihat Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 4 hal. Akad Salam 3. Pendapat Ketiga Sedangkan pendapat yang ketiga ini mensyaratkan barangnya diserahkan kemudian, bukan saat akad, sedangkan uangnya tidak disyaratkan harus diserahkan saat itu juga.

Jadi intinya uang pembayarannya boleh diserahkan saat akad itu dilangsungkan atau pun boleh juga diserahkan kemudian. Penyebutan kalimat: Dan penyebutan kalimat: Muamalat - 1 Bab 6: Akad Istishna' Bab 6: Akad Istishna' Ikhtishar A. Ijma' 4. Kaidah Fiqhiyah 5. Logika C. Kedua-belah Pihak 2. Barang Yang Diakadkan 3. Shighat Ijab Qabul D. Penyebutan Kritria Barang 2. Tidak Dibatasi Waktu Penyerahan Barang 3.

Barang Tertentu E. Hakikat Akad Istishna' F. Apakah Istishna' Mengikat? Artinya meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya. Dikatakan dalam ungkapan bahasa Arab: Istilah Sedangkan pengertian istishna' menurut istilah dalam ilmu fiqih disebutkan oleh beberapa mazhab ulama sebagai berikut: Mazhab Al-Hanafiyah Menurut sebagian kalangan ulama dari mazhab Hanafi, istishna' adalah: Bila seseorang berkata kepada orang lain yang punya keahlian dalam membuat sesuatu,"Buatkan untuk aku sesuatu dengan harga sekian dirham", dan orang itu menerimanya, maka akad istishna' telah terjadi dalam pandangan mazhab ini.

Mazhab Al-Hanabilah Senada dengan definisi di atas, kalangan ulama mazhab Hambali menyebutkan bahwa istishna' adalah: Akad Istishna' Jual-beli barang yang tidak belum dimilikinya yang tidak termasuk akad salam. Sehingga definisinya juga terkait, yaitu: Perbedaan Dengan Salam, Ijarah, dan Ju'alah Ada tiga akad selain dari akad istishna' yang punya kemiripan atau irisan, namun ketiganya tetap berbeda. Ketiga akad itu adalah akad salam, akad ijarah dan akad ju'alah.

Salam Sebagaimana sudah dibahas dalam bab sebelumnya bahwa akad salam itu adalah membeli barang yang diberikan uangnya secara tunai, namun barangnya belum ditunaikan alias terhutang. Muamalat - 1 Dan di masa Nabi SAW, praktek akad salam adalah para pedagang kurma sudah membeli kurma dengan uang tunai terlebih dahulu, sementara kurmanya belum tersedia dan menjadi hutang pihak petani.

Persamaan akad salam dengan akad istishna' adalah samasama merupakan pembelian yang uangnya diserahkan secara tunai, namun apa yang dibeli menjadi tanggungan atau hutang.

Sedangkan perbedaannya hanyalah dalam wujud objek yang diperjual-belikan. Kalau dalam akad salam, objeknya adalah barang atau benda yang belum dibeli oleh penjualnya, sedangkan dalam akad istishna' ini, objeknya adalah benda yang belum lagi dibikin, dibuat atau diciptakan. Singkatnya, dalam akad salam penjualnya harus membeli barangnya dulu, sedang dalam akad istishna' pejualnya harus membuatnya dulu. Kalau seseorang membeli sate dengan menyerahkan terlebih dahulu uangnya kepada si penjual yang mangkal di pinggiran jalan, lalu satenya baru mau dibakar, maka akad itu termasuk akad istishna'.

Demikian juga seorang kolektor lukisan, bila dia membayar tunai kepada pelukis untuk dibuatkan lukisan yang indah, kemudian pelukis itu baru melukisnya dalam waktu sekian lama, maka akad yang mereka lakukan pada dasarnya adalah akad istishna'. Ijarah Akad ijarah pada hakikatnya merupakan akad jual-beli juga.

Hanya saja bedanya, yang diperjual-belikan bukan barang tetapi jasa. Perhatikan definisi para ulama tentang akad ijarah ini: Akad Istishna' yang disewa dengan hitungan tertentu. Sementara bahan-bahan bangunan dibelinya sendiri. Maka dalam hal ini orang itu tidak membeli rumah dari tukang bangunan, melainkan dia membeli jasa tukang untuk mengerjakan pekerjaan membangun rumah.

Akad ijarah ini berbeda dengan akad istishna'. Dalam akad istishna' seseorang melakukan transaksi jual-beli rumah. Hakikatnya orang itu membeli rumah dari pihak pemborong bangunan, dimana uangnya sudah diserahkan, namun rumahnya belum ada dan pekerjaan pembangunannya baru akan mulai dikerjakan. Ju'alah Sedangkan perbedaan antara akad ju'alah dengan akad istishna' cukup besar dan jelas sekali. Salah satu contoh akad ju'alah adalah akad sayembara, dimana seseorang menawarkan kepada pihak lain suatu harta tertentu, apabila pihak lain berhasil mengadakan suatu barang yang sesuai kehendak pihak pertama.

Apabila ada yang berhasil mengadakan barang itu, maka dia berhak mendapatkan upah atau imbalan atas jasanya. Dan sebaliknya, bila tidak berhasil, maka tidak ada upah atau pembayaran apapun. Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa pada hakikatnya dalam akad ju'alah yang diperjual-belikan adalah jasa, yaitu jasa untuk mengadakan suatu barang, dengan kesepakatan adanya imbalan bila berhasil dilakukan.

Sedangkan dalam akad istishna', yang diperjual-belikan bukan jasa, melainkan barang tertentu yang telah ditetapkan oleh pihak pertama.

Akadnya bukan jasa untuk untuk mengadakan barang. Muamalat - 1 di kalangan muslimin. Al Baqarah: Maka beliau pun memesan agar ia dibuatkan cincin stempel dari bahan perak.

Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau. Muslim Perbuatan nabi ini menjadi bukti nyata bahwa akad istishna' adalah akad yang dibolehkan. Al-Ijma' Sebagian ulama menyatakan bahwa pada dasarnya umat Islam secara de-facto telah bersepakat merajut konsensus ijma' bahwa akad istishna' adalah akad yang dibenarkan dan telah dijalankan sejak dahulu kala tanpa ada seorang sahabat atau ulamakpun yang mengingkarinya.

Akad Istishna' alasan untuk melarangnya. Kaidah Fiqhiyah Para ulama di sepanjang masa dan di setiap mazhab fiqih yang ada di tengah umat Islam telah menggariskan kaedah dalam segala hal selain ibadah: Logika Orang membutuhkan barang yang spesial dan sesuai dengan bentuk dan kriteria yang dia inginkan. Dan barang dengan ketentuan demikian itu tidak di dapatkan di pasar, sehingga ia merasa perlu untuk memesannya dari para produsen.

Bila akad pemesanan semacam ini tidak dibolehkan, maka masyarakat akan mengalamai banyak kesusahan. Dan sudah barang tentu kesusahan semacam ini sepantasnya disingkap dan dicegah agar tidak mengganggu kelangsungan hidup masyarakat. Rukun Akad istishna' memiliki 3 rukun yang harus terpenuhi agar akad itu benar-benar terjadi: Sehingga yang menjadi objek dari akad ini semata-mata adalah benda atau barang-barang yang harus diadakan.

Demikian menurut umumnya pendapat kalangan mazhab Al-Hanafi. Menurut yang kedua ini, yang disepakati adalah jasa bukan barang.

Ijab adalah lafadz dari pihak pemesan yang meminta kepada seseorang untuk membuatkan sesuatu untuknya dengan imbalan tertentu.

Dan qabul adalah jawaban dari pihak yang dipesan untuk menyatakan persetujuannya atas kewajiban dan haknya itu. Syarat Dengan memahami hakekat akad istishna', kita dapat pahami bahwa akad istishna' yang dibolehkan oleh Ulama mazhab Hanafi memiliki beberapa persyaratan, sebagaimana yang berlaku pada akad salam diantaranya: Akad Istishna' penyerahan barang yang dipesan. Tidak Dibatasi Waktu Penyerahan Barang Bila ditentukan waktu penyerahan barang, maka akadnya secara otomastis berubah menjadi akad salam, sehingga berlaku padanya seluruh hukum-hukum akad salam, demikianlah pendapat Imam Abu Hanifah.

Akan tetapi kedua muridnya yaitu Abu Yusuf, dan Muhammad bin Al Hasan menyelisihinya, mereka berdua berpendapat bahwa tidak mengapa menentukan waktu penyerahan, dan tidak menyebabkannya berubah menjadi akad salam, karena demikianlah tradisi masyarakat sejak dahulu kala dalam akad istishna'.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk melarang penentuan waktu penyerahan barang pesanan, karena tradisi masyarakat ini tidak menyelisihi dalil atau hukum syari'at.

Barang Tertentu Barang yang dipesan adalah barang yang telah biasa dipesan dengan akad istishna'. Persyaratan ini sebagai imbas langsung dari dasar dibolehkannya akad istishna'. Telah dijelaskan di atas bahwa akad istishna' dibolehkan berdasarkan tradisi umat Islam yang telah berlangsung sejak dahulu kala.

Samar Habib

Dengan demikian, akad ini hanya berlaku dan dibenarkan pada barang-barang yang oleh masyarakat biasa dipesan dengan skema akad istishna'. Adapun selainnya, maka dikembalikan kepada hukum asal Akan tetapi, dengan merujuk dalil-dalil dibolehkannya akad istishna', maka dengan sendirinya persyaratan ini tidak kuat.

Betapa tidak, karena akad istishna' bukan hanya berdasarkan tradisi umat islam, akan tetapi juga berdasarkan dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah.

Bila demikian adanya, maka tidak ada alasan untuk membatasi akad istishna' pada barang31 Al Mabsuth oleh As-Syarakhsi jilid 12 hal. Muamalat - 1 barang yang oleh masyarakat biasa dipesan dengan skema istishna' saja.

Hakikat Akad Istishna' Ulama mazhab Hanafi berbeda pendapat tentang hakekat akad istishna' ini. Sebagian menganggapnya sebagai akad jual-beli barang yang disertai dengan syarat pengolahan barang yang dibeli, atau gabungan dari akad salam dan jual-beli jasa ijarah.

Pada awal akad istishna', akadnya adalah akad ijarah jual jasa. Setelah barang jadi dan pihak kedua selesai dari pekerjaan memproduksi barang yang di pesan, akadnya berubah menjadi akad jual beli. Karena pihak pertama yaitu pemesan dan pihak kedua yaitu produsen hanya melakukan sekali akad.Tafsir Al Jalalayn: site.

The more I approached my father, the louder he cried. Consider what happens to those orphan male lovers who come forward, because he the groom has invited them without thinking—some who lost their family, some who killed themselves out of grief and some who died from heartbreak and pining… do you see them love passionately so that they can be miserly or seclude themselves to kill? Of course, this way of communicating can only be done by those who have experienced a visionary dream of the Prophet or have met him when awake.

Allah just as you have made these people have a party in this place, may these people also have a party in the world -to- come. If her fluid reaches his penis then this cools it and slows his cumming even more—if he continues on inside her then she might cum a second time.

EVELYNE from Elk Grove
I am fond of studying docunments daily . Look over my other posts. I take pleasure in longboarding.
>