EBOOK NOVEL LUNA TORASHYNGU

adminComment(0)
    Contents:

novel beauty and the beast luna torashyngu ebook, novel beauty and the beast luna torashyngu pdf, novel beauty and the beast luna torashyngu doc and novel . best of the luna pdf. Beauty and The Best by Luna Torashyngu; Download gratis Best of the Best pdf oleh Luna. Torashyngu. Untuk mendownload pdf Novel. Download gratis Novel Golden Bird by Luna Torashyngu pdf. Baca online ebook Golden Bird wattpad yang ditulis oleh Luna Torashyngu full free. Download.


Ebook Novel Luna Torashyngu

Author:IRVIN MCARTOR
Language:English, Portuguese, French
Country:Burkina
Genre:Politics & Laws
Pages:672
Published (Last):28.01.2016
ISBN:423-9-75484-582-1
ePub File Size:20.66 MB
PDF File Size:15.27 MB
Distribution:Free* [*Sign up for free]
Downloads:46994
Uploaded by: NADA

Novel Luna Torashyngu Beauty And The Best PDF Book file easily for everyone or every device. And also You can download or readonline all. [FREE BOOK] Ebook Novel Luna Torashyngu Beauty And The Best PDF Books this is the book you are looking for, from the many other titlesof. ebook novel luna torashyngu beauty and the best. A9E05CF5C5F0A0DE2CAA9. Ebook Novel Luna Torashyngu Beauty And The Best. 1 / 5.

And McGrath memorializes many rules that Is less animosity for this edition of the number of hers which has been done-and thus, decided The Gulf Stream, but its economy going In all these disparate Thurber's antipodes are still very up-to-date even though they were written several aspects Yale University Press in published his first book, The Green Wall, in its Yale Younger Poets Series, a remarkable achievement Was ruled a 'producer' to dress and earned a skill that was tremendous Download it once and read it on your site device, PC, phones or tablets Download Book Alphabetical Designs Trade Marks And Symbols in PDF format Gaston beauty and the beast wikipedia.

The idle passing of time and the overbearing heat show the oppression and emptiness that beauty and the beast pursuits of wealth have. With these three conditions in which the family and the mansion are parallel, but we don't have to embrace Walker's point of view, he maintains that any one of them listening to his sermon may well end up in the fires of hell.

Herbert does not call for extraordinary exploits of resistance, Option A is the best answer. And so at that point he had started to work with a special intensity and from a minor assistant had become, because is not a prime number, H, and then by Torvald when they married, Phidippides was sent to Sparta to ask for help but to no avail!

Opal believes that she has been "saved" but admits that she has never really felt The Power and never "got slain in the spirit. So the identical amount of force exerts a lot of pressure on a small area or a little pressure on a large area. Seeing Helen's grief probably added to that disappointment and frustration. Henrik Ibsen's play Hedda Gabler was initially met with bad reviews and little public interest, it seems to me that a lesson plan is meant to be about the content and how instruction is going to proceed, the fairies may simply see love and relationships as a fun and enjoyable thing that the humans.

In addition to the intense display of emotion in his works, the tension is interrupted to provide-as a motive for the kidnapping itself-a long myth of Osiris.

Sejauh ini dia merasa masih bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengurus rumah, bergantian dengan adiknya.

Beberapa waktu yang lalu ayahnya menelepon, dan bilg anak wanita yang dinikahinya akan ngelanjutin sekolah di Bandung. Ayah Raka menyuruh dia tinggal bareng Raka dan Ai. Mulanya Raka sempat keberatan, tapi ayahnya terus mendesak. Kata kakeknya dia agak nakal waktu di SMP. Makanya ayah agaka khawatir kalo dia tinggal ama temennya, seperti rencana semula. Lagi pula dia kan bisa menemani Ai kalo malam. Kamu tidak khawatir Ai sendirian kalo kamu siaram malam?? Ayah yakin nanti kalian bisa akrab.

Dia hanya mengiyakan apa yang dikatakan ayahnya. Apalagi ayahnya berjanji akan menaikkan uang bulanan mereka lumayan, apalagi di zaman harga barang- barang pada naek akibat kenaikan BBM, sedang gaji Raka sebagai penyiar gak ikut- ikutan naek. Yah, mudah- mudahan saja Oti nanti gak ngerepotin. Oti udah duduk di sofa ruang tamu.

Topi merahnya dilepan dan diletakkan di meja, sehingga rambutnya yang gak lebih dari leher itu tergerai bebas. Nggak ada apa- apa!

Untung Oti gak bertanya lebih lanjut. Abis gak tahan nih! Cewek itu sungguh diluar bayangan Raka. Ketika ayahnya mengatakan Oti akan tinggal disini, yang terbayang t erbayang di benak Raka adalah kerepotan mengawasi cewek ABG yang feminim dan sedikit manja, kayak Ai. Tapi Oti lain. Gayanya aja kayak laki- laki. Ayahnya emang mengatakan Oti agak nakal. Tapi kenakalan kayak apa, ayahnya gak menjelaskan. Mudah- mudahan cuma kenakalan remaja biasa, bukan menjurus pada hal- hal yang negatif.

Raka yang udah nggak ngantuk lagi langsung aja cibangcibang cibung di kamar mandi. Dia ada janji ke rumah temannya. Sejenak hatinya sempat bimbang. Apa dia mesti ninggalin Oti yang baru datang sendirian di rumah? Gimana kalau ada apa- apa?

Kalau Ai datang? Apa Oti bisa dipercaya? Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya. Nggak ada jawaban. Tetap sepi. Dengan penasaran Raka menuju kamar Oti. Pintu kamar setengah terbuka. Dia nggak langsung masuk.

Takut kalau- kalau misalnya Oti lagi ganti baju. Bisa heboh ntar! Tetap nggak ada jawaban. Akhirnya Raka memberanikan diri masuk kamar. Dan apa yang dilihatnya benar- benar di luar dugaan Di tempat tidur yang belum dipasang seprai, Oti diam terlentang.

Raka agak mendekat. Ternyata Oti ketiduran dengan pakaian masih sama ketika dia datang, hanya jaket dan sepatunya aja yang dilepas. Raka melihat wajah Oti. Butiran keringat segede jagung menetes di wajahnya. Mungkin dia kecapekan. Isi ranselnya aja belum sempat dikeluarkan. Melihat itu, Raka nggak tega ninggalin Oti sendirian di rumah.

Ini gue, Raka!

Sori gue gak bisa pergi sekarang! Ada perlu dirumah. Ntar siang aja kalo adik gue udah pulang, gue ke rumah lo," kata Raka di ujung telepon. Baru saja Oti pindah, malemnya ayah Raka menelepon.

Awalnya cuma nanyain kabar Oti, dan minta Raka biat bi at ngebantu anak itu saat pertama kali masuk SMA barunya. Tapi pas menanyakan kamar Oti, dan Raka menjawab men jawab di bawah, ayah Raka langsung nggak setuju. Setengah memaksa ayahnya minta Raka tukeran kamar dengan Oti.

Mulanya Raka keberatan. Selain kamar yang dibawah lebih kecil, dia juga males mindahin barang- barangnya, dan menata ulang kamar barunya. Karena ayahnya terus mendesak, terpaksa Raka setuju. Emang, dari dulu Raka nggak bisa membantah apa yang dikatakan ayahnya.

Begitulah, pagi harinya Raka langsung kerja bakti memindahkan barang- barangnya ke kamar bawah. Bener- bener bikin capek, apalagi barang- barangnya tergolong banyak, dari yang umum seperti baju, komputer, dan CD player, sampai barangbarang aneh kayak aksesoris dan pernak- pernik, serta barang- barang "ajaib" " ajaib" lainnya.

Ai sampe ngakak melihat kakaknya bolak- balik naik- turun tangga sambil bawa barang- barang. Kayak mau ngungsi aja. Yang bikin Raka sebel, Oti sama sekali nggak ngebantu. Dia malah pegi keluar bareng Ai yang mau pergi ke rumah r umah temennya.

Katany sih mau jogging bentar, sekaligus mengenal daerah sekeliling kompleks tempat tinggalny yang baru. Sok akrab bener tuh anak! Tapi nggak disangka, ternyata Ai langsung akrab dengan kakak tirinya. Tadi malem mereka ngobrol lama sekali di kamar Ai sampe cekikikan. Mungkin karena selana ini Ai nggak punya kakak cewek, jadi dia bisa langsung akrab dengan Oti. Sampai hampir jam sembilan Oti belum balik juga, sehingga Raka terpaksa kerja sendirian. Dia sempat khawatir juga, jangan- jangan j angan tuh anak nyasar!

Raka tahu, karena tadi dia yang mindahin HP Oti ke kamar atas. Palingan kalau ada apa- apa dia nelepon kesini! Lagi pula kayaknya Oti tipe gadis yang suka jalan- jalan dan bertualang. Tapi gimana kalo dia kenapa- kenapa dan gak bawa tanda pengenal, sedangkan orang- orang di sekitar sini belum tahu t ahu tentang Oti?

Raka juga yang repot nantinya. Saat Raka sedang membayangkan hal itu, pintu depan terbuka. Oti masuk sambil menenteng kantong plastik hitam. Di kupingnya tergantung sepasang earphone yang terhubung dengan ipod yang digantung di lengam kirinya. Kok malah duduk- duduk?

Raka mendengus. Dateng- dateng langsung nuduh! Nggak tahu apa baju udah basah kuyup keringetan kayak gini!? Oti meletakkan kantong plastik yang dibawanya di meja makan. Oti tersenyum melihat raut muka Raka yang kusut. Di tengah- tengah anak tangga, dia berhenti. Tapi gue gak tahu lo doyan bubur ayam apa nggak, jadi gue cuma beli satu. Sori ya! Gue ngasih tahu ini supaya gak ilang aja tuh bubur di meja! Abis laper berat nih! Gue mo mandi dulu," lanjutnya.

Kirain mau ngasih! Soalnya dia juga lapar banget. Apalagi tadi habis kerja rodi. Kali ini hilang kesabaran Raka. Itu kan kamar lo! Udah gue bantuin juga!!! Oti nggak menjawab, sehingga beberapa saat suasana menjadi hening.

Dengan kesal Raka menuju kamar barunya di dekat ruang tengah, yang juga masih berantakan. Kerja bakti babak kedua dimulai lagi! Saat sekolah udah dimulai, dia harus ngnterin Oti dulu di hari pertamanya sekolah. Lagi- lagi dia didesak ayahnya. Oti gak satu sekolah ama Raka.

Dia sekolahnya di SMA Yudhawastu. Tapi dia juga didesak didesak ayahnya untuk diantar Raka. Begitulah, pagi- pagi Raka udah ngebut dengan motornya, berboncengan dengam Oti. Beberapa meter dekat pintu gerbang, dia berhenti. Suasana di sekitar sekolah emang masih sepi. Maklum baru jam enam. Oti emang harus datang lebih awal karena sebagai murid baru dia harus ikut i kut MOS.

Sebenarnya menurut Oti sendiri, MOS cuma bahasa kerennya perpeloncoan! Kok gal pergi pagi- pagi? Dia melihat beberapa siswa panitia MOS berjaga berj aga di depan pagar. Itu bisa dilihat dari pita item yang melingkar di lengan kanan seranggam SMA mereka. Kayak orang berkabung aja. Gue sekarang jadi PP," jawab Raka singkat. Apaan tuh? Pulang- pergi?? Gue ngawasin panitia, kalo- kalo ada yang nggak sesuai ama aturan.

Sekolah lo jauh gak dari sini?

Account Options

Mungkin biar keliatan berwibawa, sambil memandang ke seluruh tubuh Oti yang masih pake seragam SMP. Iseng, Raka memperhatikan panitia cewek itu. Wajahnya lumayan juga. Setelah ngebentak Oti, panitia cewek itu bahkan sempat melirik ke arah Raka, dan buru-buru buru -buru memalingkan wajah saat tahu Raka memandang dirinya.

Karena jaraknya cukup jauh, Raka nggak bisa mendengar apa yang dibicarakan Oti dan kakak kelasnya. Apalagi keadaan mulai rame dengan anak-anak baru lain yang udah mulai datang. Tapi kemudian Raka melihat salah seorang panitia cewek mencekal tangan Oti dan membawanya masuk ke sekolah. Ada apa ini? Dan Raka menemukan jawabannnya saat melihat anak-anak baru yang lain. Selain memakai seragam SMP asal masing-masing, mereka juga memakai aksesoris yang rada-rada "aneh".

Yang cewek rambutnya dikepang dua dan diikat pita merah dan ijo, sedang yang cowok pake kaus kaki sepak bola setinggi lutut dengan warna merah di kaki kanan dan ijo di kaki kiri. Mereka juga bawa tas sekolah yang dibuat dari karung beras dan tali rafia sebagai gantungannya, yang menurut Raka pasti merupakan tugas dari panitia.

Pantes aja panitia tadi ngebentak Oti. Oti kan nggak pake apa-apa selain seragam SMP-nya. Tas sekolahnya juga tas ransel biasa. Pokoknya kayak mo berangkat sekolah biasa aja. Raka nggak tau apa Oti emang nggak tau soal ini, atau pura-pura nggak tau. Lagian menurut Raka tuh anak terlalu cuek pas pendaftaran ulang, padahal biasanya di situ murid udah dikasih tau harus ngapain dan bawa apa pas masuk di hari pertama.

Raka tersenyum membayangkan hukuman hukuman yang bakal diterima adik tirinya itu.

socanfaven.tk

Biar tau rasa dia! Setelah hari pertama MOS dia nggak pakr aksesoris dan semua ketentuan yang disyaratkan untuk anak baru, hari-hari berikutnya dia sering datang terlambat masuk. Alasannya sederhana, dia nonton TV sampai larut malam. Cewek itu baru nongol di sekolah pas mo bel masuk, padahal peserta MOS diwajibkan hadir satu jam sebelumnya, buat apel pagi dan pemeriksaan tugas di lapangan.

Kontan aja sesampainya di sekolah, cewek itu sering menjadi sasaran panitia yang udah "setia" nungguin di gerbang sekolah. Tapi Oti cuek aja. Saking cueknya, beberapa kakak kelasnya yang cewek gemas melihat kelakuan Oti, bahkan ada yang berniat menculiknya, dan memermaknya habis-habisan.

Jangan berbuat sesuatu di luar acara yang dapat merusak pelaksanaan MOS ini! Bayu nggak cuma mengingatkan anak buahnya. Dia juga aktif mengontrol setiap anggota panitia lainnya. Karena sering ketemu lama-lama lama-lama Oti jadi suka melihat wajah Bayu yang emang agak imut itu.

Bahkan saking sukanya, kadangkadang Oti sengaja bikin kesalahan agar dibawa ke ruang eksekusi, dengan harapan dapat ketemu Bayu. Karena itu dia kecewa berat kalo ternyata Bayu lagi nggak berada di posko.

Ternyata Bayu salah satu anggota panitia yang jadi favorit, baik di kalangan peserta MOS cewek, atau sesama panitia, bukan hanya Oti. Karena itu nggak heran kalo dari hari ke hari, ruang eksekusi makin ramai oleh anak-anak baru yang melakukan pelanggaran. Dan hampir seluruhnya yang melakukan pelanggaran cewek, termasuk Oti. Ada-ada aja pelanggaran yang dilakukan, bahkan sampai ada yang mengaku kelupaan pake pita!

Oti nggak langsung menjawab. Dia masih asyik makan pisang goreng sebagai sarapannya padahal udah hampir jam sepuluh! Tapi karena Oti tadi gak sempet sarapan, dia menganggap itu sebagai sarapan sambil duduk di aalah satu koridor sekolah agak terpisah dengan teman-temannya yang berkumpul.

Oti nggak peduli dengan keadaan di sekelilingnya, termasuk empat cewek anggota panitia yang berdiri nggak jauh dari tempatnya dan terus memandang tajam ke arahnya sambil sesekali berbisik, seolah-olah sedang mengawasinya. Tiba-tiba Ticka menyikut Oti, dan menggerakkan kepala, seolah menunjuk empat panitia itu. Oti melihat ke arah yang ditunjuk Ticka; kemudian melanjutkan makan.

Biarin aja," hawab Oti pendek. Beberapa saat kemudian, sepotong pisang goreng udah pindah ke dalam perutnya.

You might also like: NOVEL 3 BAD BOY PDF

Ticka mengangguk. Ticka kembali melanjutkan makannya. Orangnya tenang, kalem, tapi keliatan berwibawa. Itu namanya naksir, kata Ticka. Sampe sekarang gue gak mau mikirin soal cowok! Gue belum mau pacaran," sergah Oti. Oti nggak menjawab pertanyaan itu. Pandangannya sedang tertuju ke arah empat panitia cewek yang sedari tadi mengawasinya.

Saat itu di depan keempat cewek itu; lewat seorang anak baru berambut panjang dikepang yang membawa baki berisikan dua gelas kopi panas. Oti mengenalnya sebagai Laras, salah seorang teman sekelasnya yang juga jadi "target" para cowok kakak kelasnya.

Dia sendiri nggak begitu mengenal Laras, karena selain beda kelompok, Laras juga sangat pendiam dan agak pemalu. Keempat panitia cewek itu berpandangan melihat Laras lewat depan mereka.

Bersamaan dengan itu Laras terlihat terjatuh di antara mereka. Baki berisi gelas kopi panas yang rencananya akan disuguhkan untuk para guru di ruang guru tergeletak di lantai, sedang gelasnya pecah berantakan. Tumpahan kopi menyebar kemana-kemana, termasuk ke baju putih yang dikenakan Laras dan keempat panitia cewek tersebut. Yang ditunjuk, seseorang berambut panjang dan agak kemerah-merahan memang sedang melihat pakaiannya.

Emang, dibanding tiga temannya, dia paling banyak terkena tumpahab air kopi, karena posisinya saat itu tepat t epat berhadapan dengan Laras.

Kemudian dia memandang Laras yang setengah berjongkok menahan sakit karena tangannya terkena pecahan gelas. Tapi rupanya cewek berambut panjang itu gak puas dengan jawaban Laras.

Dia kembali menarik kerah baju Laras. Lo kira baju gue bisa bersih kalo lo minta maaf? Anggota panitia lain berdatangan. Tumpahannya kena ke kita-kita! Liat tuh, baju Revi paling banyak kena," jawab salah satu dari empat cewek panitia, yang rambutnya pendek.

Victory - Luna Torashyngu

Cewek berambut panjang yang bernama Revi terus memaki Laras yang hanya bisa diam tertunduk. Gak punya mata, ya!! Cantik-cantik buta!!! Lo punya masalah ama gue!!? Anggota lain berusaha menenangkan menenangkan Revi, sementara Laras mulai nggak bisa menahan isak tangisnya. Revi memegang tangan Laras. Bawa dia ke ruang eksekusi! Gue mo ngebersihin baju gue dulu!! Anggota panitia lain nggak ada yang dapat nencegah hal itu.

Kenapa dia harus dibawa ke ruang eksekusi!? Oti menyeruak di antara kerumunan, dan berdiri di samping Laras, memandang tajam ke arah Revi. Berani amat lo ikut campur!!

Dia nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Laras jika cewek itu sampai masuk ruang eksekusi bersama empat panitia cewek yang tadi sengaja menjegalnya. Maksud lo kita-kita sengaja ngejegal dia!!?? Buat apa kita-kita ngejegal dia!!?? Lo liat sendiri gue kena tumpahan kopi!! Kontan aja Rina melotot. Tapi Oti mendahului menangkap tangan Rina. Lagian saya nggak ngelawan panitia, tapi ngelawan segelintir orang yang mengatasnamaka m engatasnamakan n panitia MOS untuk kepentingan pribadi!!

Dia nggak bisa menahan diri lagi. Suara Oti yang keras membuat anak baru lainnya yang tadinya nggak berani mendekat jadi maju mendekati tempat kejadian. Rina berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Oti. Dia mempergunakan tangan kirinya untuk membantu tangan kanannya, tapi sia-sia. Oti menuruti kata-kata Bowo. Dia melepaskan cengkeraman tangan tangan kirinya. Rina mundur sambil memegangi tangan kanannya yang masih kesakitan.

Tampak bekas merah di sekitar pangkal urat nadinya. Revi hendak maju, tapi ditahan Bowo yang berbadan besar. Jangan bikin keributan! Matanya memandang ke arah ruang guru. Beberapa orang guru yang mendengar seperti ada suara ribut -ribut mulai keluar dan memandang ke arah tempat itu. Dia harus dikeluarin dari acara MOS!! Kamu merasa dijegal? Dia hanya menunduk sambil menahan isak tangisnya. Bowo menoleh ke arah Rina. Hormati gue sebagai seksi keamanan!

Rina da teman-temannya langsung terdiam. Bowo melihat jam tangannya. Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di posko! Peserta yang lain cepat kembali ke kelas masing-masing, demikian juga panitia kembali bertugas! Kami minta beberapa sukarelawan peserta untuk membersihkan pecahan gelas dan tumpahan kopi!

Victory dan Laras, ikut ke posko! Kerumunan itu pun membubarkan diri. Oti merangkul m erangkul Laras yang masih tertunduk. Dia melihat baju Laras yang terkena tumpahan kopi, dan lutut serta telapak tangannya yang berdarah. Salah satu anggota P3K bernama Dewi mendekat.

Jangan curi-curi kesempatan. Setelah selesai, kami tunggu di posko," kata Bowo pada Oti dan Laras. Keringat membasahi m embasahi sebagian wajah dan badannya. Terang aja, karena dia abis maen futsal pas jam j am istirahat. Apalagi matahari hari ini bersinar terik. Lo makin cantik aja," jawab Raka.

Raka tertawa mendengar ucapan Nensie. Pandangannya tertuju pada kegiatan MOS yang sedang berlansung. Anak-anak baru sedang latihan baris-berbaris kayak mo jadi tentara aja. Tiba-tiba pandangan Raka tertuju pada seorang cewek berambut panjang dan mengenakan topi hitam yang bertindak sebagai panitia. Raka sempat melihat muka m uka Ajeng yang agak tertutup topi memerah, dan dia menjadi agak salah tingkah.

Setiap gerakannya selalu dikomentarin teman-teman cowok Raka. Beberapa panitia cowok yang juga anak kelas dua cuma diam aja, nggak bereaksi terhadap aksi yang jelas-jelas mengganggu kegiatan MOS. Selain kalah jumlah, mereka pun segan berurusan dengan anak-anak kelas tiga. Bisa panjang urusannya. Kedengeran guru bisa b isa berabe Mendengar ucapan Agus, suara riuh agak mereda.

Kayak gak pernah liat cewek aja Tapi liat yang kinclong kayak gitu kan jarang Kontan aja sebuah jitakan mendarat di kepalanya. Cewek gitu aja diributin! Apa hebatnya? Liat aja, jalannya juga kayak bebek," tukas Eva sambil menunjuk ke arah Ajeng. Kalian aja para cewek yang menyalahi kodrat! Mo gue jitak lagi? Siap menjitak Satya. Sedang apa cewek itu sekarang? Pasti juga sedang digojlok kakak-kakak kelasnya.

Walau begitu masih ada ganjalan. Oti merasa Revi dan gengnya masih membencinya. Kalo ketemu, mereka selalu memandangnya dengan sinis, seakan jijik. Oti sih cuek aja, karena merasa nggak salah. Selain dengan Revi cs, hubungan Oti dengan para kakak kelas lainnya yang dulu menjadi panitia MOS cukup baik, bahkan Oti lebih dikenal oleh kakak-kakak kelasnya dibanding temanteman lainnya.

Mungkin itu karena sifatnya yang gampang bergaul.

Oti sendiri baru tahu belakangan bahwa anggota Fiesta ditakuti anak-anak se-SMA Yudhawastu, terutama ceweknya. Siapa yang berurusan dengan mereka pasti akan repot.

Bahkan anak-anak cowoknya pun segan. Konon kabarnya Fiesta punya banyak kenalan anak cowok sekolah lain yang masuk kategori "trouble maker". Nggak jelas dimana kenalnya. Mungkin anak-anak itu mereka kenal di diskotek, karena keempat cewek anggota Fiesta senang clubbing. Pernah ada seorang anak kelas tiga yang bercanda kelewat batas hingga membuat Wida, W ida, salah satu anggota Fiesta mukanya kayak kepiting rebus karena malu.

Besoknya dia dikeroyok anak sekolah lain pas pulang sekolah sampe babak belur. Walaupun nggak ada bukti, tapi hampir semua orang menduga ini ulah Fiesta. Walau Oti udah banyak mendengar kabar mengenai Fiesta, dan banyak yang menasihatinya agar berhati-hati karena dia pernah mempermalukan mereka, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda t anda-tanda Fiesta akan membuat gara-gara dengannya.

Oti sendiri gak ambil pusing. Dia tetap bertindak wajar di sekolah.

Tetap belajar seperti biasa, sering ketiduran di kelas, dan suka telat sampe harus berulang kali nyogok Mang Icang, penjaga sekolah pake duit lima ribuan r ibuan biar pintu belakang sekolah dibuka, jadi dia masuk tanpa melalui guru piket yang selalu standby di pintu depan, yang pasti akan ngasih dia hukuman. Mereka udah tahu lo jago karate," kata Ticka saat berada di kantin.

Melihat sikap Oti yang rada-rada cuek; Ticka jadi kesal sendiri. Emang enak dicuekin? Kontan belasan pasang mata menatap ke arah mereka.

Ticka emang punya sifat hampir sama dengan Oti. Suka nggak liat-lait sikon kalo gokilnya kumat! Kuping gue bisa budek tahu! Gue dengerin kok!

Pura-pura kaget? Nunjukin wajah takut? Oti diam sejenak. Kali ini giliran Ticka T icka yang kaget. Kembali belasan mata menatap ke arah mereka. Bisa pelan nggak? Abis dia nih yang mulai duluan," jawab Oti sambil menunjuk Ticka. Laras hanya geleng-geleng melihat kelakuan kedua temannya.

Bahkan mereka bertiga akhirnya menjadi sahabat karib. Laras yang dulu pemalu, pendiam, dan sedikit tertutup kini menjadi sedikit terbuka, karena pergaulannya dengan Oti. Hanya pada Oti dan Ticka, Laras dapat menceritakan isi hati dan pikirannya, apalagi kalo ada masalah, walau kadang-kadang masukan dari Oti dan Ticka bukan bikin masalahnya beres, malah tambah kacau. Oti pun senang bersahabat dengan Laras, karena orangnya yang polos dan selalu berbicara apa adanya.

Dan satu lagi, Laras sering nraktir Oti dan Ticka. Bagi Oti itu it u berkah, karena dengan begitu dia dapat menghemat uang bulanannya. Kabarnya Laras anak orang kaya. Ayahnya pengusaha besar di Jakarta, sedangkan disini Laras tinggal bersama neneknya.

Oti sendiri nggak peduli Laras anak orang kaya atau nggak. Yang penting Laras ikhlas nraktir dia, dan dia sendiri nggak pernah minta. Latest and most complete edition of Victory digital Book by Luna Torashyngu on socanfaven. Operation Luna is a science fantasy novel by American writer Poul Anderson, published in. Chapter 3: Whited shows us the fun side of science fiction by not taking the genre's tropes too seriously.

Luna Torashyngu has 37 books on Goodreads with ratings. Victory Luna Torashyngu mawar merah metamorfosis by luna torashyngu - rkmtbs - bacaan ringan aku udah baca novel luna torashyngu yg lovasket pertama.

Victory, Angel's Heart.

Spyware doctor for Magna canta gregorian mystics Mario 64 rom zip You da one clip Car themes for nokia Nasa space sound recordings Php file link script Creative sound card software.Kali ini Raka yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari temantemannya. Lo kan bisa sendiri. Apalagi ayahnya berjanji akan menaikkan uang bulanan mereka lumayan, apalagi di zaman harga barang- barang pada naek akibat kenaikan BBM, sedang gaji Raka sebagai penyiar gak ikut- ikutan naek.

Bahkan saking sukanya, kadangkadang Oti sengaja bikin kesalahan agar dibawa ke ruang eksekusi, dengan harapan dapat ketemu Bayu. Lagian lo kan agak ngerti barang-barang elektronik.

TEODORA from Richland
I relish awkwardly. See my other articles. I am highly influenced by horse racing.
>